Demo Menolak Trump Berakhir Anarkis, Beruntung Pelakunya Bukan Umat Muslim dan FPI

0
678
WARASMEDIA, Masyarakat dunia, saat ini masih hangat memperbincangkan peristiwa yang terjadi di negara Adi Daya, Amerika Serikat. Negeri Paman Sam ini diguncang demo besar-besaran yang menolak terpilihnya Donald Trump.
Tak hanya aksi demonstrasi biasa, ribuan orang yang turun dan memenuhi jalan-jalan utama di kota-kota besar Amerika ini juga sebagiannya berlaku anarkis dan merusak berbagai fasilitas umum. Sebuah pemandangan langka yang sangat jarang terjadi di negara yang disebut-sebut sebagai nenek moyangnya demokrasi ini.
Apa yang terjadi saat ini, tentunya sangat menarik perhatian warga dunia. Mengingat masyarakat Amerika yang disebut-sebut sebagai masyarakat yang berfikiran dewasa dan selalu mengedepankan Hak Asasi Manusia dan juga sangat demokratis. Selama ini, Amerika juga dikenal sebagai polisi dunia yang akan selalu ‘menertibkan’ kekacauan yang terjadi di kolong langit ini.
Lalu siapakah mereka yang saat ini sedang gencar menolak Donald Trump ? Apakah mereka orang-orang yang tidak mau Move On, ataukah merekaBarisan Sakit Hati yang tidak mau menerima hasil dari Pemilu ini ?
Yang jelas, mereka adalah sebagian masyarakat Amerika yang merasa tidak menerima dipimpin oleh Donald Trump. Mereka bukan menolak Trump secara pribadi, tetapi menolak sikap (baca : kebijakan) Trump yang dinilai sebagai sosok yang kontroversial juga dianggap sebagai pemimpin yang fasis, rasis dan intoleran, sementara Amerika sendiri terdiri dari beragam multi etnis dan golongan.
Tentunya mereka memiliki alasan kuat untuk menolak Donald Trump. Namun sayangnya, Trump sendiri sudah terpilih untuk menjadi pemimpin bangsa Amerika melalui sebuah proses demokrasi sesuai dengan konstitusi mereka. Sebuah konstitusi yang konon berasal dari abad 18, yang hingga kini masih tetap dianut dan dipertahankan.
Meski demikian, mereka (warga Amerika) sendiri sebenarnya bukanlah penduduk asli. Pribumi asli Amerika adalah kaum Indian yang keberadaannya kini menghilang seiring datangnya bangsa (orang-orang) eropa yang mengeksplorasi kekayaan alam di benua Amerika sejak ratusan tahun silam.

Hal ini menunjukan bahwa manakala kepentingan dan keutuhannya terancam, apapun agamanya, apapun etnisnya, apapun ideologinya, mereka bisa saja melakukan hal-hal yang melampaui batas. Mereka bukan orang-orang yang tidak Move On, mereka juga bukan Barisan Sakit Hati, tetapi mereka sedang memperjuangkan kepentingan negaranya sendiri.

Beruntungnya, aksi demonstrasi ini sendiri tidak terjadi di negara mayoritas berpenduduk Muslim. Demo menjurus pada anarkisme ini juga tidak dilakukan oleh orang-orang atau kaum Muslimin dan Muslimat, tetapi demo ini dilakukan oleh masyarakat yang mayoritasnya adalah non muslim.
Bagaimana jika hal ini terjadi di negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia ? Bagaimana jika aksi demonstrasi anarkis ini dilakukan oleh orang-orang muslim dan FPI ? Tentunya pemberitaan beberapa media di Indonesia akan sangat gencar, bahkan mungkin saja hingga tujuh hari tujuh malam mereka akan terus memberitakan.

Jangankan aksi demonstrasi berujung anarkis, hanya karena ada sepetak taman yang rusak entah oleh siapa, mereka (media dan pembacanya) begitu sibuk dan getol memberitakan dan sekaligus membesar-besarkannya.

“Petugas mulai mendorong mundur orang-orang (demonstras) yang melemparkan botol kaca dan tong sampah, membuat 26 penangkapan dan menggunakan perangkat flash-bang dan semprotan merica untuk memaksa para demonstran membubarkan diri,” begitulah situasi aksi demonstrasi yang ditulis oleh salah satu media Amerika ternama

LEAVE A REPLY