Inilah Cita-Cita & Pekerjaan Mulia Seorang Wanita Ketika Berumah Tangga

0
2077
Oleh: Aisyah Ahmad

 – Zaman modern seperti sekarang ini, bagi sebagian wanita menganggap kuno banget kalau nggak bekerja di luar rumah. Memang menyenangkan sih jika bisa menghasilkan uang sendiri dan nggak bergantung pada siapapun, termasuk kepada suami bagi yang sudah mempunyai suami atau orang tua.

Tapi diluar fenomena ini, ternyata ada juga yang bercita-cita menjadi seorang ibu rumah tangga full time. Walaupun mereka bergelar sarjana dan punya skill yang hebat di bidangnya masing-masing, tapi menjadi ibu rumah tangga sesungguhnya tetap merupakan pekerjaan yang mulia dan ternyata menjadi cita-cita utama bagi sebagian wanita. MasyaaAllah…

Perlu kita ketahui, salah satu alasan banyaknya perempuan menunda pernikahan adalah karena mereka enggan merelakan karir untuk sepenuhnya mendedikasikan waktu dalam mengurus suami, anak dan rumah tangganya. Pemikiran seperti ini diduga karena sebagain mereka berpandangan dan menyepelekan bahwa ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan apalagi pencapaian. Padahal mereka belum mengetahui betapa mulianya dan besarnya pahala sebagai ibu rumah tangga, yang setiap pekerjaannya selalu bernilai pahala.

Ketika lulus kuliah dan menjadi seorang sarjana, sebagian wanita mungkin masih kepikiran untuk berkarir dan bekerja di luar rumah. Mereka ingin mengamalkan semua ilmu yang telah didapatkan ketika di bangku kuliah. Mereka juga ingin mencoba dan mempraktekan kerangka berpikir ilmu yang telah didapatkan di dalam kehidupan nyata. Agar menikmati hasilnya, mengingat bahwa telah banyak biaya yang orang tua keluarkan. Barangkali, alasan lain mereka bekerja diluar rumah agar bisa menghidupi diri sendiri dan membalas kepada kebaikan orang tua yang sudah banyak mengeluarkan biaya.

Saat ini, masih banyak orang menganggap bahwa ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mudah dan remeh. Jadi tak perlu pendidikan tinggi atau pencapaian tertentu untuk mengurusi rumah tangga, anak dan suami.

Lantas, tak heran saat wanita bergelar sarjana, lulusan pendidikan tinggi dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga dianggap menjadi keputusan yang salah. Mungkin kita bertanya-tanya “Salahkah aku menjadi ibu rumah tangga meski aku berpendidikan tinggi?”.

Bahkan sebagian anggota keluarga kita, ibu bahkan tetangga dan teman, mereka selalu bilang: “Sekolah tinggi-tinggi sampai sarjana cuma jadi ibu rumah tangga? Sayang banget”. “Kalau cuma mau jadi ibu rumah tangga gak usah sekolah sampai sarjana”.

Begitulah yang mungkin akan sering kita dengar ketika memutuskan untuk berkarir di rumah saja demi membahagiakan suami dan anak-anak kita. Suara sumbang itu tentu pernah mengusik sebagian wanita, namun kita harus tetap teguh pada keputusan kita. “Haters gonna hate”, setiap keputusan dalam hidupmu pasti akan ada orang yang memberi tanggapan negatif.

Ikhwahfillah,, diantara perintah Allah kepada wanita muslimah adalah perintah untuk tinggal dan menetap di rumah-rumah mereka. Sebuah perintah yang banyak mengandung hikmah dan maslahat. Tidak hanya bagi wanita itu sendiri, namun juga mengandung kemaslahatan bagi umat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً

“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab 33 : 33)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa makna dari ayat {وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ} yaitu menetaplah kalian di rumah kalian sebab hal itu lebih selamat dan lebih memelihara diri wanita. Sedangkan makna ayat { وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى } yaitu janganlah banyak keluar dengan bersolek atau memakai parfum sebagaimana kebiasaan orang-orang jahiliyah sebelum Islam yang tidak memiliki ilmu dan agama. Perintah tersebut bertujuan untuk mencegah munculnya kejahatan dan sebab-sebabnya. (Lihat Taisirul Karimirrahman atau Tafsir As-Sa’di surat Al-Ahzab ayat 33).

Akhwatfillah,,, perhatikanlah. Perintah untuk tinggal di dalam rumah ini datang dari Dzat Yang Maha Memiliki Hikmah, Dzat yang lebih tahu tentang perkara yang memberikan maslahat bagi hamba-hamba-Nya. Ketika Dia menetapkan wanita harus berdiam diri dan tinggal di rumahnya, Dia sama sekali tidak akan berbuat dzalim kepada wanita, bahkan ketetapan Allah itu sebagai tanda akan kasih sayang Allah kepada para hambaNya.

Perlu kita ketahui pula bahwa tanggung jawab terbesar bagi seorang wanita adalah rumah tangganya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِه

“Ketahuilah setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja adalah pemimpin bagi rakyatnya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban terhadap yang dipimpin. Seorang suami adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dan akan diminta pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang hamba adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan dia juga akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ketahuilah setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kamu pimpin.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita hendaknya jangan tertipu dengan teriakan orang-orang yang menggembar-gemborkan isu kesetaraan gender sehingga timbul rasa minder terhadap wanita-wanita karir dan merasa rendah diri dengan berada didalam rumah. Padahal banyak pekerjaan mulia yang bisa dilakukan oleh wanita dan ibu rumah tangga didalam rumah suaminya.

Dirumah ada suami yang harus dilayani dan ditaati. Ada juga anak-anak yang harus di tarbiyah dengan baik. Ada harta suami yang harus diatur dan dijaga sebaik-baiknya. Ada pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang butuh penanganan dan pengaturan. Semua ini pekerjaan yang mulia dan berpahala di sisi Allah Ta’ala. Para wanita muslimah harus ingat bahwa kelak pada hari kiamat kita akan ditanya tentang amanah tersebut yang dibebankan kepadanya.

Namun demikian yang kita ketahui, bahwa jika dalam kondisi tertentu menuntut wanita untuk mencari nafkah, diperbolehkan baginya keluar rumah untuk bekerja, namun harus memperhatikan adab-adab keluar rumah sehingga tetap terjaga kemuliaan serta kesucian harga dirinya.

Ketika cita-cita sesederhana menjadi seorang ibu rumah tangga biasa menjadi begitu langka dan sulit sekali terlaksana, ketika begitu sedikit dari mereka yang bercita-cita jadi ibu rumah tangga dengan seutuhnya, maka dengan seizin-Mu Yaa Rabb, perkenankanlah kami para wanita muslimah menjadi bagian dari yang sedikit itu. Aamiin..

Semoga Allah memberikan kemantapan hati jika cita-cita itu bukan sesuatu yang salah, dan menjadikannya tidak sebatas pada keinginan, tetapi juga kebutuhan. Semoga Allah memperkenankan cita-cita sederhana kita itu menjadi nyata, meridhainya dan menjadikannya jalan terbaik yang dipilihkan-Nya untuk kita, serta memberikan kemudahan bagi kami untuk melalui aral-melintangnya.

Percaya wahai wanita muslimah, bahwa Allah akan menjaga dan memelihara apa yang menjadi kepunyaan-Nya. Percaya bahwa berkarya menjemput rezeki-Nya bisa dimana saja. Percaya bahwa tidak ada sandaran hidup yang lebih baik selain Allah Ta’ala pemilik alam semesta. Wallahu a’lam…

LEAVE A REPLY