Reuni Akbar 212, Cerminan Islam Rahmatan

0
119

Oleh: Ana Nazahah
Revowriter Aceh

PERHELATAN Akbar 2 Desember (212) telah berlalu, namun spirit persatuan dan ukhuwah Islam antar sesama kaum Muslim, berikut dengan harapan menuju Indonesia damai dan sejartera, akan terus dikawal.

Seperti yang kita ketahui reuni akbar yang di lakukan di Monas ini, sebelumnya ditentang dan bahkan sempat dihalang-halangi, namun karena telah mendapatkan izin dari pemkot setempat, maka reuni ini pun tetap berjalan seperti yang diharapkan, bahkan sukses.

Adapun pihak yang merasa reuni ini tidak relevan adalah kubu pemerintah. Karena seperti yang kita ketahui, Aksi Damai Bela Islam (212) dilaksanakan pertama kali di kawasan Monas pada 2016 silam. Saat itu, massa yang hadir menuntut mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok untuk bertanggungjawab terhadap pernyataannya yang dianggap menghina agama Islam. Aksi ini berhasil dengan ditangkapnya Ahok. Jadi, 212 intinya sudah selesai, menurut mereka.

Namun mayoritas ulama dan masyarakat justru melihat agenda reuni akbar ini penting untuk terus dijaga dan diteruskan semangatnya. Reuni 212 bisa menjadi sarana menjaga ukhuwah antar saudara, bahkan ukhuwah antar sesama warga negara yang berbeda agama, dengan mewujudkan sikap toleransi yang Islami.

Karenanya reuni akbar 212 ini bukan hanya sekedar nostalgia, tetapi sarat dengan pesan perdamaian. Menunjukkan kepada dunia betapa rahmatannya Islam, jauh dari stigma negatif -radikalisme, terorisme- yang selama ini dilekatkan.

Kesuksesan perhelatan akbar tersebut, cukup sebagai jawabannya. Reuni yang diperkirakan dihadiri oleh jutaan manusia itu berjalan tertib dan damai. Tentunya atas izin Allah Subhanahu wa Ta’aala yang telah memberikan petunjuk dan melindungi aktivitas terseb, sehingga berjalan sukses tanpa kendala yang berarti.

Maha suci Allah yang menampakkan kebesarannya. Reuni 212 adalah manifestasi dari muslim cinta damai. Muslim yang ingin membela agamanya. Para peserta yang jutaaan banyaknya itu datang dari berbagai daerah yang berbeda-beda, mereka mengerahkan harta dan tenaga, merasa terpanggil untuk bisa bersama-sama membuktikan Islam yang rahmatan di negeri pertiwi.

Hal ini senada seperti yang disampaikan oleh kyai kondang Aa Gym, “Saya pikir kenapa orang mau kumpul begitu, nabung, jauh-jauh, apa sih sebetulnya yang menyebabkan berbondong-bondong? Rupanya ada satu yang ingin disampaikan, yang dirasakan sulit untuk mengungkapkan.”

Aa Gym mengatakan ia merasakan perih ketika umat Islam dituduh radikal, intoleran, teroris, mau memisahkan, anti Pancasila dan sebagainya.

Di samping itu, Aa Gym juga mengungkapkan rasa kecewanya yang besar, terhadap stigma negatif yang dilekatkan pada Islam dan kaum Muslim selama ini, “Kami bukan perusak negeri ini, maka rumputpun tidak ada yang dirusak, kami bukan orang yang bengis dan kasar, maka senyuman pun dirasakan, kami bukan orang-orang yang ingin merusak yang keji, maka kasih sayangpun bertebaran,” Ujar ustaz kondang tersebut.

Karena itu, alangkah tidak berdasarnya jika kemudian reuni akbar 212 ini ditakuti dan dihalang-halangi. Selama bertujuan untuk kebaikan bangsa, maka Reuni ini akan terus relevan sampai kapan pun.

Semoga saja, di reuni akbar ke depannya, pemerintah sudah mau terbuka dan mau memfasilitasi. Sehingga event akbar ini bisa berjalan lebih tertib lagi, sehingga makna dan kandungan positif di dalamnya bisa dioptimalkan oleh seluruh penduduk negeri.[]

OPINI ini adalah kiriman pembaca Islampos. Kirim OPINI Anda lewat imel ke: redaksi@islampos.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri. Isi dari OPINI di luar tanggung jawab redaksi Islampos.

LEAVE A REPLY