Ayah Bunda, Jangan Bercerai!

0
631

Oleh : Fatimah Azzahra, S.Pd

“Ummi, Abi kemana? Hiks, hiks, dede kangen abi,” si kecil bertanya sambil berurai air mata. Sang ibu pun hanya bisa memeluknya, tak kuasa menjelaskan kisah perceraian yang sudah diputuskan.

Pilu hati bak disayat sembilu. Melihat sang buah hati menangis tersedu-sedu mencari ayah atau ibundanya. Perceraian kini telah merebak menggerogoti biduk rumah tangga seluruh penjuru negeri, termasuk bumi pertiwi.

Di Saudi Arabia, ada sekitar 8 kasus perceraian setiap jam. Tingkat perceraian di Kuwait mencapai 54%. Di Iran, tingkat perceraian meningkat empat kali lipat dalam 20 tahun terkahir. Di Turki, tingkat perceraian meningkat 82% selama 10 tahun terakhir. Sementara di Indonesia, tingkat perceraian mencapai ratusan ribu dalam setahun (republika.co.id, 21/1/2018). Itu saja baru data dari tahun 2016, belum tahun 2017 yang kasusnya kian meningkat. Bahkan ada artikel yang menyatakan bahwa angka perceraian di Indonesia tertinggi se-Asia Pasifik (jawaban.com, 24/7/2017).

Perceraian memang perkara yang dibolehkan dalam agama Islam. Namun, harus diingat juga bahwa ia dibenci oleh Allah swt. Apalagi jika mengingat dampak negatif yang menghantui anak dengan orangtua yang bercerai.

Penyebab Retaknya Keluarga

Banyak faktor yang menyebabkan perceraian. Beberapa diantaranya, masalah finansial, life style, dan pemahaman agama. Semuanya saling berkaitan satu sama lain.

Tak dipungkiri, kehidupan kian hari dirasa semakin sulit. Termasuk masalah finansial. Zaman sekarang, harga kebutuhan kian melambung tinggi, sementara pemasukan tetap di posisinya atau bahkan berkurang. Hingga didorong keluarlah para ibu untuk membantu perekonomian keluarga. Sungguh mulia, demi tanggung jawab mempertahankan biduk rumah tangga. Sayang seribu sayang, ternyata ini kembali menimbulkan permasalahan. Ketika ibu berpenghasilan lebih besar dari suami. Banyak yang akhirnya berpikiran tak butuh akan suami, karena ia bisa menafkahi dirinya dan keluarganya sendiri. Sehingga perceraian pun terjadi (gaya.tempo.co, 21/5/2018). Apalagi jika sang suami yang akhirnya pasrah pada keadaan. Tak berupaya lebih untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Di tengah kesulitan, anehnya life style kian beragam. Gaya hidup berubah menjadi kebutuhan. Paham hedonis, liberal kian merasuk ke dalam tubuh penghuni keluarga. Foya-foya, hura-hura, dan hidup bebas menjadi hal yang biasa.  Ditambah lagi hadirnya orang ketiga dalam biduk rumah tangga. Sudahlah menambah retaknya keluarga. Perceraian pun dipilih menjadi solusinya.

Hidup memang penuh dinamika masalah. Karena itu, butuh imu untuk mengarunginya. Agar senantiasa selamat dan terjaga. Sayang seribu sayang, bak sudah jatuh ditimpa tangga. Kini kita justru jauh dari ilmu tersebut, ilmu agama. Padahal itu wasiat Rasulullah saw agar kita selamat di dunia dan akhirat. Paham sekuler telah berhasil mengisolir agama hanya pada momen tertentu saja. Semakin menjauhkan kita dari pondasi dan solusi hakiki menyelamatkan biduk rumah tangga.

Suami yang baik dan paham akan agama, tahu pasti kewajibannya. Allah berikan kewajiban pada suami untuk memberikan nafkah pada keluarganya. Mereka sadar berhadapan dengan dosa dan siksa Allah ketika meninggalkan kewajiban ini. Istri yang paham akan agama pun demikian. Sadar akan kewajibannya sebagai ummu warobbatul bayt. Sadar pula harus taat pada suami. Tak akan berani meninggalkan kewajibannya. Suami istri yang paham agama, akan meredam ego dan menjaga keharmonisan rumah tangga dari orang ketiga. Tak membandingkan pasangan yang Allah anugerahkan dengan orang lain.

Selamatkan Keluarga  

Keluarga adalah benteng terakhir bagi kita. Harus kita jaga dengan seksama dan segenap tenaga. Apalagi di tengah zaman yang ajaib seperti sekarang ini. Sebelum membenahi yang lainnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah penguatan pondasi diri, pondasi keluarga. Aqidah, agama. Dengan pondasi yang kokoh, ditimpa masalah apapun insya allah akan tetap berdiri tegak.

Sudah saatnya benahi iman diri, pasangan, dan keluarga. Pahami islam sebagai agama kehidupan, yang tak hanya mengatur ranah ibadah saja, tapi juga semua aspek kehidupan. Jadikan islam sebagai way of life. Sehingga kita akan melihat dengan kacamata Islam, mendengar dengan telinga Islam, menggerakkan anggota tubuh sesuai aturan Islam.

Kalau sudah merasuk pemahaman Islam yang hakiki dalam benak suami istri. Suami pun akan ringan menjalankan kewajibannya, baik itu mencari nafkah atau juga mendidik istri dan keluarganya. Sesulit apapun masalah akan dihadapi bersama dengan penuh tawakal. Karena bergantung pada Ia Yang Maha Kuasa.

Baik itu permasalahan finansial, jika memang materi sedang surut, suami istri harus bahu membahu. Suami akan mencari sambilan untuk tambahan memenuhi kebutuhan keluarganya. Istri juga membantu mengatur keuangan, agar budget yang ada bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalau perlu, laksanakan shaum sunnah, sebagaimana Nabi Muhammad saw mencontohkan. Dikisahkan, saat Rasulullah saw pulang dan bertanya makanan pada istrinya, Aisyah. Namun, AIsyah belum membuat makanan, maka nabi memilih untuk melaksanakan shaum sunnah pada hari itu.

Ingatlah rezeki itu dari Allah, bukan dari atasan atau pekerjaan. Yakinlah Allah akan mengirimkan rezeki hak kita dengan cara yang tidak kita duga. Tapi, tak cukup sampai disini. Perlu ada sistem yang mendukung pemenuhan kebutuhan ini, sistem pemerintahan. Negara harus turut andil ambil peran dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya. Apalagi, dalam Islam negara diwajibkan menjamin pemenuhan kebutuhan rakyatnya, sandang, pangan, dan papan.

Bagaimana cara memenuhinya? Dengan penerapan ekonomi syari’ah. Salah satunya negara mengelola semua kekayaan sumber daya alam negeri yang semua hasilnya dikembalikan untuk pemenuhan kebutuhan rakyat. Islam mengharamkan penyerahan sumber daya alam melimpah pada orang lain baik asing atau pun swasta. Lihatlah kekayaan alam negeri-negeri muslim yang melimpah ruah. Itu semua Allah anugerahkan untuk kita. Dengan penerapan ekonomi syari’ah, masalah kebutuhan keluarga pun selesai sudah.

Sementara permasalahan life style, berkaitan dengan pemahaman agama. Mereka yang sudah memahami agama akan memilih untuk hidup sederhana. Sederhana dalam berbusana, bertingkah laku, dan lainnya. Karena itu yang dicontohkan baginda nabi. Tak akan pula terbesit untuk melirik pelakor atau pebinor. Lebih utama ghadul bashor.

Sudah saatnya kita akhiri kerusakan keluarga di negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia. Mari dekap agama yang ia adalah pondasi kehidupan kita. Penyelamat juga di akhirat kelak. Mari kobarkan api perjuangan, membumikan kembali kalimat tauhid, yang Rasul dulu perjuangkan. Suarakan penerapan kembali islam kaffah dalam bingkai institusi negara, sebagaimana yang Rasul dan sahabat mulia contohkan. Agar padam kobaran api yang meretakan keluarga kita semua.

Wallahua’lam bish shawab.

Ilustrasi: Google

LEAVE A REPLY