Menjadi sekokoh Asma’ binti Abu Bakr

0
997

Menjadi sekokoh Asma’ binti Abu Bakr

Oleh: Dwi Ira

Siapa yang tak kenal dia? Wanita pemberani yang mengirimkan ransum bagi Rasulullah saw dan sahabatnya saat masa persembunyian dalam gua.

Siapa yang tak mengenal sosoknya? Sang pemilik dua ikat pinggang. Berani, Kokoh, Kuat, mandiri, dan cerdas!

Dialah istri Zubair bin Awwam Rodiyallohuanhu, mendapat julukan sbg Hawari –penjaga– Rasul karena selalu mendampingi Rasululloh. Dia juga salah satu sahabat yang dijanjikan Jannah ketika masih hidup.

Asma’ wanita mandiri dan kokoh, yang dalam pernikahannya tak memiliki harta apapun kecuali kuda suaminya. Dengan tangannya ia rawat kuda itu sendiri, menumbuk biji kurma, mengambil air, memanen kurma, semua ia lakukan, SENDIRI. Bahkan dalam kemiskinan pun ia dikenal sebagai wanita dermawan.

Dialah Asma’, wanita tangguh yg senantiasa menjaga perasaan suaminya. Ketika ia pulang menempuh jarak 3,4km dari kebun kurma milik suaminya dengan membawa berkilo-kilo kurma, Rasulullah SAW berpapasan dengannya. Ia menawari agar ‘Asma ikut menaiki unta rombongan Rasulullah SAW. Namun, ‘Asma menolak karena ia tahu bahwa suaminya sangat pencemburu.

Saat tiba di rumah ia berkata kepada suaminya, “Tadi aku bertemu Rasulullah SAW ketika aku membawa kurma di atas kepalaku. Beliau disertai beberapa orang sahabat. Beliau menyuruh untanya duduk agar aku pergi bersamanya. Aku merasa malu dan teringat sifatmu yang pencemburu.”

Az Zubair menanggapinya, “Demi Allah, keadaanmu membawa kurma di atas kepala lebih memberatkan hatiku daripada kau naik unta bersama beliau.”

Dialah Asma’ yang berhijrah saat sedang hamil tua. Melawan panas udara gurun dengan lelah payah. Dari rahimnya-lah bayi pertama lahir di Madinah dari kaum muhajirin. Membantah kutukan kaum Yahudi Madinah yang mengatakan ‘tak akan ada bayi lahir di Madinah setelah masa hijrah’.

Dialah ibu dari Abdullah bin Zubair yang kelahirannya disambut kegembiraan seluruh Madinah. Bayi yang mereguk ludah Rasululloh SAW langsung dari mulut beliau.

Siapa yang tak mengenal Asma’? Bukan karena hartanya, bukan juga karena modis gaya berpakaiannya tapi karena kekokohan imannya.

Ketika di zaman fitnah, anak lelakinya (Abdullah) merasa ditinggalkan pasukannya dan kalah jumlah, ia datang pada ibundanya yang telah menua dan buta.
Asma’ berumur 100 tahun berkata dengan yakin, ” Janganlah kau bimbang, selama kau berada dalam kebenaran”.

…Dialah ibu dari Abdullah bin Zubair yang kelahirannya disambut kegembiraan seluruh Madinah. Bayi yang mereguk ludah Rasululloh SAW langsung dari mulut beliau…

Abdullah anaknya berkata “aku pun sebenarnya yakin ibu, tapi aku khawatir engkau akan bersedih jika seandainya saja aku terbunuh, dan mereka mencabik-cabik jasadku”.

Asma’ bergeming dan berkata, “Kambing yang sudah disembelih, tak merasakan sakit saat tubuhnya dikuliti”.

Perkataan wanita tua itu menenangkan Abdullah. Dengan yakin ia berniat memeluk sang bunda sebelum kembali ke pasukannya. Namun, Asma’ yang memegang baju besi anaknya berkata, “Apa yang kau pakai.ini Anakku? Ini bukanlah yang dipakai oleh orang-orang yang merindukan syahid.”

Abdullah pun melepas baju besinya. Ia bertempur melawan Hajjaj dengan jumlah pasukan tak seimbang.

Abdullah syahid. Dan seperti perkiraan, jasadnya digantung dan dicabik-cabik. Yang menggantung bukanlah musuh dari kalangan kafir, tapi orang yang mengaku Muslim tapi ‘berbeda pandangan politik’ dengan Abdullah. Yang tak setuju dengan pembaiatan Abdullah bin Zubair sbg khalifah oleh penduduk Hijaz.

Bahkan setelah menggantung jasad Abdullah, kemudian Al Hajjaj mengutus utusan kepada Asma’ Binti Abu Bakr agar Asma’ menemuinya, tetapi Asma’ enggan.

Utusan tersebut pulang dan kembali membawa pesan Al Hajjaj:
“Engkau mesti datang berjumpa dengan aku atau aku akan hantar seseorang yang akan menyeret engkau sambil menarik rambutmu.”

Asma’ tetap juga enggan.
Katanya, “Aku tidak akan berjumpa dengan engkau hinggalah engkau hantar seseorang yang akan menyeret aku dengan rambutku.”

Al Hajjaj yang mendengarnya (sebagaimana disampaikan oleh utusannya) pun berkata, “Ambilkan alas kakiku.”

Lalu utusannya mengambilkan alas kaki untuknya, dan Al Hajjaj pergi menuju Asma’ dalam keadaan marah, lalu berkata, “Apa pendapat engkau tentang apa yang aku lakukan terhadap si musuh Allah itu? (‘Abdullah bin Az Zubair)?”

Asma’ menjawab, “Aku lihat engkau telah menghancurkan kehidupan dunianya, tapi dia telah menghancurkan kehidupan akhirat engkau. Aku dengar engkau memanggilnya (sebagai), “Wahai anak Dzat An Nithaqain (pemilik dua tali pinggang).” Sesungguhnya demi Allah, akulah Dzat An Nithaqain; tali pinggang yang pertama aku gunakan untuk menghantar makanan Rasulullah dan Abu Bakr, manakala tali pinggang kedua tidak dapat ditandingi oleh wanita mana pun. Rasulullah pernah memberitahu kami bahwa di Thaqif nanti ada seorang pendusta dan seorang pemusnah, si pendusta itu kami telah mengenalinya, manakala si pemusnah pula, aku tidak kenal yang lain melainkan engkau.”

Al Hajjaj lalu bangkit dan tidak membalas kata-kata Asma’. (Shahih Muslim, no. 2545)

Asma’ wafat di usia 100 tahun, dengan gigi yg masih utuh dan ingatan yang prima.

Dialah Asma’, orang terakhir yang meninggal dunia dari kalangan kaum Muhajirin.

Siapa yang tak mengenal Asma’?

Ayahnya adalah Abu Bakr As-Siddiq, sahabat yang paling dicintai Rasulullah saw, suami dan anaknya adalah para panglima perang dan syuhada.

Ia populer bukan karena sepatu dan baju mahalnya atau gaya bersoleknya.

Ia mahsyur karena usia panjang yang diberkahi dengan jiwa juang hingga senantiasa mengukir sejarah sejak Islam muncul dalam keadaan asing sampai kejayaan Islam meluas. Abuqhois/warasmedia.com

Ilustrasi : Afra Azizah Amd Keb

 

LEAVE A REPLY