Pemimpin Itu Harusnya Jadi Katalisator Bukan Provokator

0
188

Seorang pria berdiri di podium. Di hadapan ribuan pendukungnya. Penuh sorak sorai.

Orang-orang menyebut dia pemimpin. Sang pemimpin itu mengungkapkan dia kerap menjadi sasaran fitnah. Fitnah yang ditujukan kepadanya ini telah bermunculan sejak ia menjadi pemimpin.Selama ini ia menanggapi semua fitnah yang ditujukan kepadanya dengan diam. Ia tak pernah membalas fitnah tersebut.Dengan urat yang bertengger di leher, ia berujar, “Difitnah-fitnah, saya diam. Dijelek-jelekin, saya diam. Direndahkan, saya diam. Dihujat, dihina, saya juga diam,” ujar dia.

Lagi dia berkata, kali ini penuh amarah, “Tetapi hari ini saya sampaikan di Jogja saya akan lawan. Ingat sekali lagi. Akan saya lawan!”

Ia disanggup gemuruh oleh fans garis kerasnya.

Sebagai seorang pemimpin, cara bicara sosok itu tak serupa pemimpin. Melainkan seperti perempuan yang pasangannya direbut orang.

Sosok itu tak layak memimpin negeri majemuk dan heterogen ini. Sebagai pemimpin, dia seharusnya menjadi katalisator.  Merekatkan kembali rakyat yg mengalami friksi dan benturan-benturan. Ia malah, dengan tangan kekuasaannya, memprovokasi. Ia provokator nomor wahid dan mengajak orang agar terprovokasi. Bikin suasana jadi panas.

Masa depan seorang pemimpin adalah rahasia Allah dan urusan-Nya.
Kita tidak akan ditanya tentang itu, tapi kita akan ditanya kenapa memilih pemimpin yang track recordnya buruk rupa. (@paramuda)

LEAVE A REPLY