Reaksi Cerdas Humoris Haji Agus Salim Ketika Dicemooh: Mbek, Mbeek

0
90

Paman Prof. Dr. Emil Salim, Haji Agus Salim (lahir dengan nama Masyhudul Haq – berarti “pembela kebenaran”); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 4 November 1954, orang cerdas yang menguasai 9 bahasa asing dan banyak bahasa daerah.

Dikisahkan oleh Jef Last dalam Membongkar Manipulasi Sejarah (2009) karya Asvi Warman Adam, pernah ketika Agus Salim yang berjanggut itu sedang berpidato, tiba-tiba terdengar suara dari kerumunan hadirin. “Mbek… mbek… mbek…”

Lantas, bagaimana reaksi Agus Salim?

Dengan tenang, Agus Salim berkata, “Tunggu sebentar. Sungguh menyenangkan, kambing-kambing pun mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Sayang mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas.”

“Saya sarankan kepada mereka keluar ruangan, sekadar makan rumput di lapangan. Kalau pidato saya untuk manusia ini selesai, mereka akan dipersilahkan masuk kembali dan saya berpidato dalam bahasa kambing untuk mereka,” lanjutnya. Telak.

Bagaimana Masyudul Haq berubah menjadi Agus Salim?

Menurut sejarawan Asvi Warman Adam dalam H. Agus Salim (1884-1954): Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme, ketika Masyudul kecil, dia diasuh oleh seorang pembantu asal Jawa yang memanggil anak majikannya “den bagus” yang kemudian dipendekan menjadi “gus.” Kemudian teman sekolah dan guru-gurunya pun ikut memanggilnya “Agus”. Sedangkan Salim diambil dari nama ayahnya.

Ketika berusia 6 tahun, Agus Salim diterima pada sekolah dasar Belanda, ELS (Europeese Lagere School). Setelah lulus, dia dikirim ke Batavia untuk belajar di HBS (Hogere Burger School). Dia lulus dengan angka tertinggi, tidak saja di sekolahnya, tetapi juga untuk sekolah HBS lain (Bandung dan Surabaya). Namanya terkenal di seantero Hindia Belanda di kalangan kaum kolonial dan terpelajar.

Sayangnya, beasiswa kedokteran yang diajukan Agus Salim ditolak pemerintah Belanda. RA Kartini mengusulkan agar beasiswa yang diterimanya sebesar 4.800 gulden diberikan kepada Agus Salim. Namun Agus Salim menolaknya dengan alasan menentang cara diskriminatif pemerintah Hindia Belanda.

Pada 1905, Agus Salim mendapatkan tawaran bekerja di konsulat Belanda di Jedah sebagai penerjemah dan pengurus urusan haji. Pada periode inilah, dia memperdalam agama Islam dengan berguru pada pamannya, Syeh Ahmad Khatib.

Sepulang ke Tanah Air, dia sempat bekerja di dinas pekerjaan umum. Pada 1917, dia terjun ke dunia media massa, sebagai pemimpin redaktur harian Neratja, lalu sebagai pemimpin redaksi Hindia Baroe, Fadjar Asia. Bersamaan dengan itu, dia terjun ke dunia politik pergerakan melalui Sarekat Islam.

Pada 1921-1924, Agus Salim menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili Sarekat Islam. Meskipun poliglot (menguasai sembilan bahasa asing), dia justru yang pertama kali berpidato dalam bahasa Melayu/Indonesia di sidang Volksraad.

Agus Salim dikenal anti-komunis. Saat Sarekat Islam terancam pecah karena sebagian anggotanya terpengaruh ideologi kiri. Kala itu, Agus Salim menjadi pengawal utama Sarekat Islam agar pengaruh paham komunis tidak semakin besar. Akhirnya, berkat peran sentral Agus Salim, orang-orang merah itu hengkang dari Sarekat Islam, kemudian mendirikan gerakan baru yang menjelma menjadi PKI.

LEAVE A REPLY