VIDIO KEJAMNYA PT Q-NET, MEMPERDAYAI SEORANG DIFABILITAS ASAL KABUPATEN TRENGGALEK

0
117

 

 

KEJAMNYA PT Q-NET, MEMPERDAYAI SEORANG DIFABILITAS ASAL KABUPATEN TRENGGALEK
#KISAH KORBAN Q-NET (PART 21)

LUMAJANG. (23/09/2019) Baru-baru ini, sebuah akun Facebook bernama @Achmad Cbbtrenggalek Fauzi mengirimkan sebuah video kedalam grup Facebook ‘Sahabat MAS’. Video tersebut berisi sebuah konten yang menceritakan seorang difabel asal Kabupaten Trenggalek yang ternyata pernah menjadi korban Q-NET.

Diketahui, korban bernama Slamet yang berasal dari Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek. Dalam video tersebut, korban mengatakan pertama kali ikut bisnis Q-NET pada tahun 2015 lantaran ikut seseorang yang menawarkan nya bisnis dalam bentuk sales. Slamet yang mulai tertarik pun dijanjikan untuk datang ke seminar pada hari Minggu ke daerah yang bernama Karangan.

Dalam presentasi tersebut, Slamet mulai tertarik berkecimpung dalam bisnis Q-NET lantaran melihat uang yang ia katakana sangat ‘ora umum’. ‘Ora umum’ yang dimaksud disini adalah para motivator yang memberikan presentasi sesekali menyebarkan uang kepada para calon korban tersebut.

Seusai mengikuti seminar yang pertama tersebut, dirinya mengatakan selama 3 minggu tak pulang ke rumah lantaran berpindah pindah mengikuti seminar yang sama namun di kota yang berbeda beda. Dirinya pun akhirnya memantapkan diri untuk pulang ke rumah untuk meminta uang kepada orang tua sebagai persyaratan masuk kedalam bisnis tersebut.

Orang tua Slamet yang tak memiliki tabungan pun tak merestui niat sang anak tersebut. Slamet pun akhirnya marah dan melawan orang tuanya hingga akhirnya berani menjual sawah milik orang tuanya. Meskipun sawah tersebut terjual lebih dari 100 juta Rupiah, namun Slamet hanya mengambil 8 Juta Rupiah saja untuk biaya pendaftaran.

Setelah bergabung dengan Q-NET, kakak Slamet yang berada di Hongkong menelfon Slamet dan mengatakan bahwa sang adik telah ditipu oleh Q-NET. Slamet yang bingung dengan kata-kata sang kakak menanyakan balik maksud dari pernyataan tersebut. Akhirnya sang kakak mengatakan bahwa perusahaan tersebut juga telah melakukan penipuan di negara dimana kakaknya bekerja.

Slamet mengatakan dirinya menyetorkan uang sebanyak 8 juta Rupiah secara kontan kepada seseorang yang telah mengajaknya dulu untuk bergabung. Seusai memberikan uang tersebut, Slamet mengatakan mendapatkan berbagai macam produk yakni Kalung dan juga piringan yang terbuat dari kaca yang disebut Cakra kesehatan.

Setelah mendapatkan produk tersebut, Slamet mendapat tugas untuk mencari calon anggota baru untuk bergabung dengan bisnis tersebut. Namun sayang, dirinya tak pernah mendapatkan anggota baru, dan bahkan harus mengeluarkan biaya sendiri untuk keperluan lain-lain. Keperluan lain lain yang dimaksud Slamet adalah fasilitas transportasi maupun biaya makan untuk calon anggota yang akan diajak Slamet untuk bergabung.

Slamet mengatakan dirinya juga tak bisa mengambil uang yang telah disetor tersebut, meskipun hanya diambil separuhnya saja. Dirinya ingat pada saat memberikan tanda tangan seusai menyetorkan uang,ia tak membaca isi dan peraturan bisnis tersebut. Yang ada dalam benak kepalanya hanyalah tahun depan ia dapat mengantarkan kedua orang tuanya ke tanah suci Mekkah. Ia juga sangat yakin dengan cepat akan sukses dan mendapatkan uang yang sangat banyak.

Bahkan dirinya mengatakan ada teman nya yang menghabiskan sawah di dua tempat yang berbeda lantaran terjerumus dalam bisnis tersebut. Hal tersebut terjadi lantaran teman dari Slamet ikut 16 slot (1 slot senilai 8 juta Rupiah).

Slamet menjelaskan dirinya berhenti dari bisnis tersebut lantaran dirinya sadar setelah sampai di berbagai kota seperti Kediri, Tulungagung, Trenggalek dan Blitar namun tak mendapatkan hasil sama sekali. Dirinya tak pernah berhasil mengajak seorangpun untuk bergabung kedalam bisnis tersebut.

Bahkan dirinya pernah dimarahi oleh seorang teman nya yang akan diajak untuk bergabung lantaran sudah mengetahui bahwa bisnis tersebut hanyalah bisnis penipuan. Sang teman sempat mengatakan kepada Slamet “Kowe iki arep njegorne koncone nang njero segoro. La aku iki yowes tau diajak bisnis koyok ngene (kamu ini mau memasukan temanmu kedalam lautan. Saya sudah pernah diajak ikut bisnis seperti ini)”

Di akhir video, Slamet berpesan kepada mereka yang belum bergabung dalam Q-NET untuk tidak bergabung lantaran bisnis tersebut hanyalah kedok penipuan dan dirinya adalah buktinya. Dirinya tak pernah merasakan kesuksesan seperti yang dikatakan dalam motivator seminar Q-NET. Ia berharap tidak ada lagi korban berjatuhan seperti dirinya.

Slamet adalah potret kecil korban dari keganasan Q-NET. Setiap orang selalu memiliki sebuah harapan dan impian, termasuk mimpi untuk merubah nasib dan kesuksesan, walaupun terkadang tidak sesuai keadaan dan kenyataan. Hati hati dan waspada segala bentuk bujukan dan rayuan serta iming-iming yang menggiurkan sebelum kemudian menyesal.

Dalam pernyataan nya, Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban SH,SIK, MH, MM yang juga merupakan putra daerah asli Makassar sangat menyayangkan dengan penipuan berkedok bisnis tersebut. “Mereka sangat tidak manusiawi, dimana kebanyakan mereka menipu para calon anggotanya yang memiliki latar belakang pendidikan yang kurang maupun perekonomian yang bisa dikatakan pas-pasan. Bahkan yang terbaru, ada sebuah akun Facebook yang mengirimkan video melalui Facebook grup ‘Sahabat MAS’ dimana video tersebut berisi Q-NET pernah menipu difabel asal Kabupaten Trenggalek. Mereka yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari orang normal, malah dengan keji diperdaya, hal ini sangat menyayat hati kita semua” terang pria yang menyelesaikan S3 di Universitas Padjajaran Bandung tersebut.

*Dibawah ini salah satu link ttg pengakuan disabilitas yg menjadi korban qnet..

https://www.facebook.com/groups/2097146940360898/permalink/2436062493136006?sfns=mo

https://youtu.be/c57XjwnyOcM

 

LEAVE A REPLY